Satuan Kata

Just another WordPress.com site

PENGGUNAAN TANDA BACA 03/11/2011

Filed under: Pelajaran — satuankata @ 22:39

PENGGUNAAN TANDA BACA

A. Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya:

Ayahku tinggal di Solo.

Biarlah mereka duduk disana.

Dia menanyakan siapa yang akan datang.

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,

ikhtisar, atau daftar.

Misalnya:

a. III.  Departemen Dalam Negeri

A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa

B. Direktorat Jenderal Agraria

1.  …

b. 1.   Patokan Umum

1.1 Isi Karangan

1.2 Ilustrasi

1.2.1 Gambar Tangan

1.2.2 Tabel

1.2.3 Grafik

Catatan:

Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan

atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam

deretan angka atau huruf.

3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan  angka jam, menit, dan detik yang

menunjukan waktu.

Misalnya:

pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan  angka jam, menit, dan detik yang

menunjukan jangka waktu.

Misalnya: 1.35.20 jam ( 1 jam, 35 menit, 20 detik)

0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

0.0.30 jam (30 detik)

5. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak

berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar

pustaka.

Misalnya:

Siregar, Merari. 1920.  Azab dan Sengsara. Weltervreden: Balai

Poestaka.

6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

Misalnya:

Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

7. Tanda titik  tidak  dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau

kelipatannya yang tidak menunjukan jumlah.

Misalnya:

Ia lahir pada tahun 1956 diBandung.

Lihat halaman 2345 dan seterusnya.

Nomor gironya 5645678.

8. Tanda titik  tidak  dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala

karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya:

Acara kunjungan Adam Malik

Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD ‘45)

Salah Asuhan

9. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggalsurat

atau (2) nama dan alamat penerimasurat.

Misalnya:

Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik)

Jakarta(tanpa titik)

1 April 1985 (tanpa titik)

Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik) Jalan Arif 43 (tanpa titik)

Palembang(tanpa titik)

Atau:

Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)

Jalan Cikini 71 (tanpa titik)

Jakarta(tanpa titik)

B. Tanda Koma (,)

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau

pembilangan.

Misalnya:

Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

Suratbiasa,suratkilat, ataupunsuratkhusus memerlukan perangko.

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari

kalimat serata berikutnya yang  didahului oleh kata seperti  tetapi  atau

melainkan.

Misalnya:

Saya ingin datang, tetapi hari hujan.

Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan  anak kalimat dari induk kalimat

jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

Misalnya:

Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

4. Tanda koma  tidak  dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk

kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Misalnya:

Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

Dia lupa akan janjinya karena sibuk.

Dia tahu bahwa soal itu penting. 5. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung

antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh

karena itu, jadi, lagi pula,meskipun begitu, akan tetapi.

Misalnya:

… Oleh karena itu, kita harus hati-hati.

… Jadi, soalnya tidak semudah itu.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti kata seperti  o, ya,

wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.

Misalnya:

O, begitu?

Wah, bukan main!

Hati-hati, ya, nanti jatuh.

7. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain

dari kalimat.

Misalnya:

Kata Ibu, “ Saya gembira sekali.”

“Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”

8. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian

alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau

negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:

(i) Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan,Bogor.

(ii) Sdr. Anwar, Jalan Pisang Batu 1,Bogor

(iii)Surabaya, 10 Mei 1960

(iv)Kuala Lumpur,Malaysia.

9. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik

susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Alisjahbana, Sultan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru BahasaIndonesia.

Jilid 1 dan 2.Djakarta: PT Pustaka Rakjat. 10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang

mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga,

atau marga.

Misalnya:

B. Ratulangi, S.E.

Ny. Khadijah, M.A.

11. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya

tidak membatasi.

Misalnya:

PresidenRI, Susilo Bambang Yudhoyono, berkunjung keManado.

Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti

latihan paduan suara.

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit

tanda koma:

Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.

12. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan

sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:

12,5 m

Rp 12,50

13. Tanda koma dapat dipakai––untuk menghindari salah baca––di belakang

keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap

yang bersungguh-sungguh.

Atas bantuan Edyar, Agus mengucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan

dan pengembangan bahasa.

Agus mengucapkan terima kasih atas bantuan Edyar. 14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian

lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir

dengan tanda tanya atau tanda seru.

Misalnya:

“ Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.

“Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.

C. Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat

yang sejenis dan setara.

Misalnya:

Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.

2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk

memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.

Misalnya:

Ayah mengurus tanamannya di  kebun itu; Ibu sibuk memasak di

dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional.

D. Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan

pemerian.

Misalnya:

Ketua : Moch. Achyar

Sekretaris : Tati Suryati

Bendahara : Noviana Pertiwi

2. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di

antara surah dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul

suatu karangan, serta (iv) nama kotadan penerbit buku acuan dalam

karangan.

Misalnya:

(v) Tempo, I (34), 1971:7

(vi) Surah Yasin:9 (vii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi,

sudah terbit.

(viii) Marzuki dan Rudy W. 2006. Pembuatan Aneka Kerupuk.Jakarta:

Penebar Swadaya.

3. Titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan

pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Ayah : “Karyo, sini kamu!”

Karyo : (datang menghampiri) “Adaapa, Pak?”

Ayah : “Tolong ambilkan sepatu hitam yang di atas lemari!”

4. Titik dua dapat dipakai pada akhir  suatu pernyataan lengkap jika diikuti

rangkaian atau pemerian.

Misalnya:

Pak Adi mempunyai tiga orang anak: Ardi, Aldi, dan Asdi.

Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan

lemari.

E. Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar atau kata berimbuhan

yang terpisah oleh pergantian baris.

Misalnya:

2. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya:

Anak-anak, kupu-kupu, berulang-ulang, kemerah-merahan, mondarmandir, sayur-mayur

3. Tanda hubung menyambung huruf dari kata yang dieja satu-satu dan

bagian-bagian tanggal.

Walaupun demikian, masih banyak yang tidak mematuhi peraturan tersebut.

Industri tersebut dapat dikembangkan menjadi industri padat karya. Misalnya:

p-a-n-i-t-i-a

17-08-1945

4. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan  kata dengan kata berikutnya

atau sebelumnya yang dimulai dengan  huruf kapital, kata/huruf dengan

angka, angka dengan kata/huruf.

Misalnya:

se-Indonesia, se-Jabodetabek, mem-PHK-kan, sinar-X, peringkat ke-2,

S-1, tahun 50-an

5. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasaIndonesia

dengan unsur bahasa asing.

Misalnya:

di-smash, pen-tackle-an

F. Tanda Pisah

1. Tanda pisah membatasi penyisipan  kata atau kalimat yang memberi

penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya:

Kemerdekaan bangsa itu––saya yakin akan tercapai––diperjuangkan

oleh bangsa itu sendiri.

2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang

lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya:

Rangkaian temuan ini––evolusi, teori kenisbian, dan kini juga

pembelahan atom––telah mengubah konsepsi kita tentang alam

semesta.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau kata dengan arti ‘sampai

dengan’ atau ‘sampai ke’.

Misalnya:

2004––2009

tanggal 1––10 Mei 2007

Jakarta––BandungG. Tanda Elipsis (…)

1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat atau dialog yang terputus-putus.

Misalnya:

Kalau begitu … ya, ayo kita berangkat.

2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam  suatu kalimat atau naskah ada

bagian yang dihilangkan.

Misalnya:

… selanjutnya akan di bawa ke pengadilan.

Ibu baru pulang … pasar.

Catatan:

Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, maka perlu

dipakai empat buah titik; tiga titik untuk menandai penghilangan teks dan

satu titik untuk menandai akhir kalimat.

Misalnya:

Ibu baru pulang dari….

H. Tanda Tanya

1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Misalnya:

Kapan ia berangkat?

Saudara tahu, bukan?

2. Tanda tanya dipakai di dalam kurung untuk menyatakan bagian kalimat

yang disangsikan kebenarannya.

Misalnya:

Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).

Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

I. Tanda Seru (!)

1. Tanda seru dipakai pada akhir kalimat perintah.

Misalnya:

Bersihkan kamar itu sekarang juga!

Jangan berisik! 2. Tanda seru dipakai pada akhir ungkapan atau pernyataan yang

menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ketakjuban, ataupun

rasa emosi yang kuat.

Misalnya:

Alangkah seramnya peristiwa itu!

Indah sekali pemandangan alam ini!

Merdeka!

J. Tanda Kurung ((…))

1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya:

Komisi A telah selesai menyusun GBPK (Garis-Garis Besar Program

Kerja) dalam sidang pleno tersebut.

2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian

integral pokok pembicaraan.

Misalnya:

Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan perkembangan perekonomianIndonesialimatahun terakhir.

3. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan

keterangan.

Misalnya:

Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan

(c) modal.

4. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks

dapat dihilangkan.

Misalnya:

Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).

Sahrul Gunawan berasal dari (kota)Bogor.

K. Tanda Kurung Siku ([…])

1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai

koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang

terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya:

Sang Puteri men[d]engar bunyi gemerisik.

2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang

sudah bertanda kurung.

Misalnya:

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab

II [lihat halaman 35––38]) perlu dibentangkan di sini.

L. Tanda Petik (“…”)

1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan

naskah atau bahan tertulis lainnya.

Misalnya:

“Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”

Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasaIndonesia.”

2. Tanda petik mengapit judul syair,  karangan, atau bab buku yang dipakai

dalam kalimat.

Misalnya:

Sajak “Berdiri Aku” terdaapat pada halaman 5 buku itu.

Karangan Andi Hakim Nasoetion  yang berjudul “Rapor dan Nilai

Prestasi di SMA” diterbitkan dalam harian Tempo.

3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang

mempunyai arti khusus.

Misalnya:

Saat ini ia sedang tidak mempunyai pacar yang di kalangan remaja

dikenal dengan “jomblo”.

Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.

M. Tanda Petik Tunggal (‘…’)

1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Misalnya: Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

“Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak

pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.

2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata

atau ungkapan asing.

Misalnya:

Feed-back berarti ‘balikan’.

N. Tanda Garis Miring (/)

1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomorsuratdan nomor pada alamat

dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya:

No. 12/PK/2005

Jalan Kramat III/10

Masa Bakti 2005/2006

Tahun Ajaran 2006/2007

2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.

Misalnya:

Laki-laki/Perempuan

120 km/jam

O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka

tahun.

Misalnya:

Gunung pun ‘kankudaki. (‘kan= akan)

17 Agustus ’45 (’45 = 1945)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s