Satuan Kata

Just another WordPress.com site

Definisi Bedah Mayat 20/12/2011

Filed under: Pelajaran — satuankata @ 01:43
Tags:

Definisi Bedah Mayat

Secara etimologi bedah mayat adalah pengobatan dengan jalan memotong bagian tubuh seseorang. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Al-Jirahah yang berarti melukai, mengiris, atau operasi pembedahan. Sedangkan secara terminologi bedah mayat adalah suatu penyelidikan atau pemeriksaan tubuh mayat, termasuk alat-alat organ tubuh dan susunannya pada bagian dalam. Setelah dilakukan pembedahan atau pelukaan, dengan tujuan menentukan sebab kematian seseorang, baik untuk kepentingan ilmu kedokteran maupun menjawab misteri suatu tindak kriminal.

Macam – Macam Tujuan Membedah Jenazah

Di lihat dari tujuannya praktek bedah dan otopsi mayat ada beberapa macam, namun yang paling sering dilakukan adalah:

Pertama, Untuk mengetahui penyebab kematiannya, saat terjadi tindakan kriminal. Untuk keperluan ini seorang dokter mengotopsi jenazah untuk mengetahui penyebab kematiaannya. Apakah mayat tersebut meninggal secara wajar atau karena tindak kriminal.

Kedua, Untuk mengetahui penyebab kematian secara umum. Dengan otopsi ini seorang dokter dapat mengetahui penyakit yang menyebabkan kematian jenazah tersebut, sehingga kalau memang itu suatu wabah dan dikhawatirkan akan menyebar, bisa segera diambil tindakan preventif, demi kemashlahatan.

Ketiga, otopsi untuk praktek ilmu kedokteran. Otopsi ini dilakukan oleh para mahasiswa fakultas kedokteran untuk mengetahui seluk beluk organ tubuh manusia. Ini sangat diperlukan untuk mengetahui adanya penyakit pada organ tubuh tertentu secara tepat.

fatwa Hai’ah Kibarul Ulama’ No. 47 tanggal 20/08/1396H tentang pandangan Hai’ah terhadap praktek otopsi dan pembedahan mayat seperti perihal diatas :

Untuk masalah pertama dan kedua, majelis berpendapat tentang dibolehkannya untuk mewujudkan banyak manfaat dalam bidang keamanan keadilan dan tindakan preventif dari wabah penyakit. Adapun mafsadat merusak kehormatan mayat yang di otopsi bisa tertutupi bila dibandingkan dengan kemashlahatannya yang banyak, maka majelis sepakat menetapkan diperbolehkannya melakukan otopsi untuk dua tujuan tersebut, baik mayat itu ma’shum atau tidak.

Adapun yang ketiga, yang berhubungan dengan pendidikan medis, maka memandang bahwa syari’at Islam datang dengan membawa serta memperbanyak kemashlahatan dan mencegah serta memperkecil mafsadat dengan cara melakukan mafsadat yang paling ringan serta mashlahat yang paling besar. Juga karena tidak bisa diganti dengan membedah binatang, juga karena pembedahan ini banyak mengandung mashlahat seiring dengan perkembangan ilmu medis, maka majelis berpendapat, bahwa secara umum diperbolehkan membedah mayat yang tidak ma’shum(Selain orang Islam dan Kafir Dzimmi)

Contoh Kasus : Membedah Mayat Wanita Untuk Menyelamatkan Bayi Yang Dikandung

Bila ada seorang ibu yang meninggal dunia , sedang bayi yang dikandungnya masih hidup, para ulama berselisih, apakah harus dibedah perut ibu atau bagaimana?

Imam Malik dan Ahmad mengatakan tidak boleh dibedah perut seorang ibu meskipun bayi yang dalam kandungannya masih hidup, namun dikeluarkan dengan cara diambil dari jalan farji oleh tenaga medis (Lihat Syarh Mukhtashor Khalil Syaikh Ahmad Dirdir, dan Al Inshof Imam Mawardi 2/556, Kasyaful Qina’ 2/130)

Berkata Ibnu Qudamah; “Hal ini karena bayi itu belum pasti masih hidup, maka tidak boleh melanggar sesatu yang telah jelas keharamannya demi sesuatu yang belum jelas.

Berkata Syeikh Ahmad Syakir, dalam Ta’liq Al Muhalla; “Adapun mengeluarkan bayi yang masih hidup dalam kandungan sang ibu, maka hal ini wajib dilakukan. Adapun mengenai caranya maka hal itu terserah kepada ahlinya, baik seorang dokter maupun dukun bayi”.

Kaidah fiqih yang masyhur seperti contoh kasus diatas jika memang bisa menolong menyelamatkan kehidupan seseorang dalam Keadaan darurat (terpaksa) maka diperbolehkan. Namun untuk memprediksikan apakah ini sudah dalam keadaan darurat atau belum seringkali terjadi perbedaan diantara para ulama, semua kita kembalikan kepada ahlinya baik seorang dokter maupun dukun bayi”.

Hadits Jabir bin Abdullah Jabir bin Abdullah berkata,

“Rasulullah SAW mengirim seorang tabib kepada Ubay binKaab maka tabib tersebut memotong pembuluh darahnya dan menempelnya dengan besi panas” (HR. Muslim).Dalam hadits ini Nabi SAW menyetujui apa yang dilakukan oleh tabib tersebutterhadap Ubay bin Kaab, dan apa yang dilakukan oleh tabib tersebut adalah salah satubentuk operasi medis yaitu pemotongan terhadap anggota tertentu.Kemudian dari sisi pertimbangan kebutuhan penderita kepada operasi yang tidaklepas dari dua kemungkinan yaitu menyelamatkan hidup dan menjaga kesehatan,pertimbangan yang dalam kondisi tertentu bisa mencapai tingkat darurat maka tidak ada alasan yang rajih menolak operasi medis.Syariat Islam tidak melarang operasi medis secara mutlak dan tidak membolehkan secara mutlak, syariat meletakkan larangan pada tempatnya dan pembolehan pada tempatnya, masing-masing diberi hak dan kadarnya.Jika operasi medis memenuhi syarat-syarat yang diletakkan syariat maka dibolehkan karena dalam kondisi ini target yang diharapkan yaitu kesembuhan dengan izin Allah bisa. firman Alah SWT: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (An Nisa’ : 93) Sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya mematahkan tulang seorang mukmin yang sudah meninggal, sama seperti mematahkan tulangnya dikala hidupnya” (Riwayat Abu Dawud 2/69, Ibnu Majah 1/492, Ibnu Hibban 776, Ahmad 6/58, dari ‘Aisyah RA, dengan sanad shahih)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s